Tampilkan postingan dengan label Fiqih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqih. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Oktober 2012

Ayo Puasa Arofah

Iya puasa Arafah, apa sih puasa Arafah itu?
Puasa Arafah adalah puasa yang  jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa Arafah dinamakan demikian karena saat itu jamaah haji sedang wukuf di terik matahari di padang Arafah. Puasa Arafah ini dianjurkan bagi mereka yang tidak berhaji. Sedangkan yang berhaji tidak disyariatkan puasa ini.

.Mengenai hari Arofah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim)

Sabtu, 13 Oktober 2012

Durhaka Kepada Kedua Orang Tua = Dosa Besar

Berhati-hatilah kawan, kita jangan sampai durhaka kepada kedua orang tua, karena durhaka merupakan salah satu dosa besar.

Dari Abu Bakrah ra. Berkata : Rasulullah SAW bersabda :
Berbuat syirik kepada Allah membunuh jiwa dan durhaka kepada kedua orang tua.” Kemudian beliau mengatakan : “maukah aku beritahukan kepada kalian dosa-dosa besar yang paling besar?” beliau mengatakan: “Perkataan Palsu” atau “Persaksian Palsu.” Syu’bah berkata : Dugaanku yang paling kuat adalah bahwa beliau mengatakan “Persaksian Palsu.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Durhaka kepada kedua orang tua merupakan dosa besar setelah perbuatan Syirik Kepada Allah SWT, begitu sebaliknya berbakti kepada kedua orang tua diperintahkan setelah Perintah Bertauhid.

Seorang ibu adalah orang yang paling agung dan juga seorang yang lemah, barangsiapa menyakiti orang lemah hukumnya lebih berat. Berbuat durhaka kepada ibu lebih dikhususkan dan lebih diharamkan. Sebagaimana Sabda Nabi :

“Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan atas kalian berbuat durka kepada Ibu, mengubur anak-anak wanita, menolak hak yang menjadi kewajibanya dan meminta apa yang bukan menjadi haknya, dan Allah membenci kalian banyak menceritakan omongan orang, banyak bertanya dan menyianyiakan harta.” (HR. Bukhari)

Patuh Terhadap Orang Tua yang Musyrik

Menggauli kedua orang tua dengan baik adalah kewajiban, meskipun mereka musyrik, berdasarkan Firman Allah SWT :

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku  sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka jangan lah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya didunia dengan baik.” (QS. Luqman : 15)

Walaupun tidak boleh mentaati apa yang mereka yakini, namun kita harus tetap berbuat baik kepada mereka berdua. Allah SWT berfirman :

“Allah tidak melarang kamu untuku berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah : 8-9)

Perintah untuk berbakti dan berbuat baik kepada orang tua meskipun mereka musyrik terkadang menjadi permasalahan bagi sebagian orang. Sebagaimana Firman Alla SWT :

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimananmu dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. At Taubah : 23)

Misalnya seorang Muslim menikahi wanita Nasrani, Suaminya sangat mencintai Istrinya tersebut dengan atas rasa cinta yang sangat dalam. Padahal suaminya membenci yang dianut istrinya. Maka kewajiban seorang suami berbuat baik kepada istrinya, memberinya makanan yang terbaik pakaian yang terbaik, dan mempergaulinya dengan pergaulan yang baik. Dan itu sifatnya sementara, hanya hidup di dunia saja.


Sumber : Buku Fiqh Praktis Keluarga --Abu Abdullah Musthafa bin al-'Adawi-- 

Selasa, 09 Oktober 2012

Silabi Islam dan Sains

2.Tipologi Hubungan Agama dan Sains. (II-III)
3.Historisitas/Sejarah Hubungan Islam dan Sains dalam peradaban Islam (IV-V)
4.Strategi Pengembangan Sains yang Ideal. (V-VI)
5.Keilmuan Integratif-Interkonektif: Paradigma Keterpaduan Islam dan Sains UIN Sunan Kalijaga. (VI-VII)
6.Presentasi karya ilmiah (makalah). (VIII-XIV)